Hurts : Is It Wrong If I love You Too Much?

Karya : Rita Huang

Sebegitu mengerikankah jika kau sendiri yang tersiksa dengan berakhirnya sebuah hubungan percintaan? Terperosok dan sendirian di kelamnya sakit hati yang menderamu. Aku merasakannya, sangat menyakitkan.

Bulan ke berapa sekarang? Entahlah. Aku ingat betul saat kami bertemu tepatnya di bulan Oktober. Sebuah pertemuan yang tidak sengaja saat pria itu masuk dan membeli secangkir kopi di café-ku. Sedikit cream dan jangan terlalu manis, itulah kata-kata yang di ucapkannya. Aku menyuruh Doni, pembuat kopi yang bertugas di dapur untuk membuatkan kopinya. Pria itu langsung berlalu saat kopi sudah di tangannya.

Keesokan harinya dia datang kembali dan membeli secangkir kopi lagi. Tetap sama, sedikit cream dan jangan terlalu manis. Kali ini aku yang membuatkan kopi itu karena hari ini Doni tidak masuk kerja.

Pria itu tidak langsung pulang setelah mendapatkan kopinya, melainkan duduk di salah satu kursi di café-ku. Hari itu pelanggan tidak terlalu banyak karena hujan. Aku memutuskan untuk duduk juga di salah satu kursi di sana sambil menatap hujan yang jatuh membasahi kaca café ini. Aku selalu menyukai hujan, menyukai bagaimana airnya jatuh bebas sesuka hati mereka.

“Kau yang membuat kopi ini?” Aku mendongak dan mendapati pria itu duduk di hadapanku. Astaga! Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya.

“Ya. Kenapa? Apa kopinya terlalu manis atau cream-nya yang terlalu banyak?” tanyaku.

“Tidak. Semuanya pas dan aku sangat menyukai kopinya. Kau tahu? Kopi ini sangat berbeda dengan kemarin yang aku minum.”

“Benarkah?”

“Tentu saja. Aku tidak merasakan kehangatan saat kuminum kopi kemarin. Dan aku baru bisa merasakannya saat aku minum kopi buatanmu. Sangat berbeda,” jawabnya tersenyum. Aku juga tersenyum mendengarnya.

“Dan kau mau tahu kenapa rasanya berbeda?” lanjutnya. Aku menunggu jawabannya. “Itu karena kau membuatnya dengan hati. Membuatnya dengan penuh senyuman. Sedangkan yang kemarin, aku yakin si pembuatnya membuat kopi itu hanya sebatas kewajibannya karena dia bekerja di sini.”

Aku tertawa mendengarnya. “Kenapa kau tertawa?” tanyanya heran.

“Kau mengatakannya seolah kau berada di dapur café-ku.”

“Tapi begitulah kenyataannya. Aku merasakan kehangatan saat meminum kopi buatanmu,” belanya.

“Oke, terserah padamu saja,” Lalu, aku mendengar suara gemerincing yang berasal dari pintu masuk yang menandakan ada pelanggan datang. “Sepertinya aku harus melayani pelangganku dulu. Senang bisa berbicara denganmu,” kataku seraya tersenyum kepadanya sebelum bangkit berdiri dan kembali ke meja kasirku.

Ingatan pertemuan pertama itu menghantam hatiku. Sakit, tapi aku tidak ingin melupakannya. Dia terlalu berharga untuk kulupakan. Walau pengkhianatan yang sudah dilakukannya. Karena aku baru tahu aku tidak sekuat apa yang terlihat. Aku membutuh pria itu di sisiku. Karena sebesar apapun rasa benci yang kurasakan tidak sebesar rasa cintaku padanya. Aku akan menerimanya kembali jika dia mau datang menemuiku.

Beralih ke 1 minggu kemudian, di bulan November. Selama seminggu itu dia tidak datang lagi ke café-ku. Aku selalu menunggunya dan pada akhirnya harus menelan kekecewaan. Sebuah perasaan yang aku tidak tahu dari mana munculnya. Sangat membingungkan.

“Menunggunya lagi?” tanya Alice, sahabatku yang bekerja disini juga. Aku tidak menjawab pertanyaan.

“Nih,” katanya seraya menyodorkan sebuah majalah kepadaku.

Awalnya aku tidak berminat melihatnya, tapi langsung berubah pikiran begitu melihat siapa yang ada di majalah tersebut. Pria itu. Sangat tampan dengan posenya. Mataku kemudian beralih ke tulisan di sebelah gambarnya. Dan aku baru tahu nama pria itu adalah Alex Hermawan. “Dia seorang model terkenal dan sekarang melakukan pemotretan di New York,” lanjutnya.

Kaget, tidak terlalu. Pria itu sedang sibuk dengan pekerjaannya.

“Kau menyukainya?”

Aku menatap Alice tajam, tidak suka dengan pertanyaannya.

“Tidak.” jawabku pendek.

“Kau menyukainya?” ulang Alice lagi.

“Tidak, Alice. Aku tidak menyukainya!”

“Oh, ayolah, Kayla. Kau menyukainya, masa kau tidak sadar juga. Aku bisa melihatnya di matamu. Kau menunggunya setiap hari di sini seperti orang bodoh dan berharap dia muncul di depan pintu café. Aku saja menyadarinya, masa kau tidak?” cecarnya. Aku ingin membalas perkataannya, tapi bingung ingin balas apa.

“Aku sangat mengenalmu. Tidak ada salahnya kan jatuh cinta pada seseorang. Itu sah-sah saja, Kay.”

“Aku tidak menyukainya, Alice,” aku bersikeras.

“Tanyakan saja pada hatimu, Kay,” ujar Alice, kemudian berlalu dan masuk ke dalam dapur.

Aku menyukainya? tidak mungkin.

Hari ini aku tidak menunggunya lagi karena aku tahu dia tidak akan datang dan ternyata aku salah besar. Dia, pria itu datang lagi. Entah kenapa jantungku tiba-tiba bekerja di luar kendali seperti ini, mengentak-entakan dadaku hingga terasa begitu sesak. Tanganku juga berkeringat karena gugup. Apa karena pria itu?

“Aku mau kopi seperti biasa. Tapi buatanmu,” katanya, tersenyum manis.

Aku mengangguk dan masuk ke dapur untuk membuat kopi pesanannya. Konsentrasi sulit kudapatkan saat membuat kopi ini. Lalu, aku berjalan keluar dan membawakan kopi itu untuknya.

“Bisa kita bicara sebentar?” tanyanya.

Aku melihat keadaan sekeliling café-ku. Tidak terlalu ramai. Mungkin aku bisa mengiyakan. “Tentu saja.”

Kami duduk di kursi yang sama seperti seminggu yang lalu. Ada rasa rindu yang mendalam ketika aku menatap wajahnya. Pria itu menyesap kopinya lalu menaruhkan perhatiannya kepadaku.

“Aku merindukanmu.”

Deg! Apa tadi? Aku membulatkan mata otomatis. Aku tidak salah dengar, kan? Dia bilang kalau dia…

“Aku merindukanmu, Kay,” katanya sekali lagi.

“Bagaimana… kau tahu namaku?” tanyaku heran.

“Aku mencari semua datamu selama seminggu terakhir ini,” akunya. Tapi bagaimana bisa? Dia kan berada di luar negeri. “Aku menyuruh orang suruhanku, Kay,” jawabnya seolah bisa membaca pikiranku.

“Sejak aku minum kopi buatanmu dan tahu kau yang membuatnya, aku merasa ada yang istimewa di dalam dirimu. Dan aku benar mengenai itu. Kau memang istimewa,” ujarnya lembut. Aku yakin seratus persen pipiku pasti semerah kepiting rebus sekarang. “Aku suka rona di pipimu,” tambahnya. Sial!

“Sialan kau!” makiku yang di balasnya dengan tawa.

Mukaku cemberut, tentu saja karena sebal dengannya. Aku memperhatikan caranya tertawa dan menyadari betapa lucunya wajah dia.

Alex menghentikan tawanya, kemudian menatapku serius.
“Aku akan menawarkan sesuatu kepadamu dan aku tidak menerima penolakan apapun,” katanya.

“Cih! Dasar pemaksa!” dengusku.

“Aku yakin kau tidak akan menolaknya,” Wajahnya sangat serius saat mengatakannya. Dan jantungku kembali berdegup kencang menanti apa yang akan di tawarkannya.

“Kau harus jadi kekasihku, kau mengerti?” Aku terngangah mendengarnya. Apa aku sedang bermimpi? Alex baru saja menyatakan cinta padaku. Tapi lebih tepatnya dia mengunakan kalimat perintah saat mengatakannya.

“Aku rasa kau tidak terima penolakan, seperti katamu tadi, Alex. Mungkin aku bisa mencobanya,” ujarku.

“Mencobanya?” ulang Alex tajam. “Tidak percobaan di dalam hubungan kita, Kay. Aku ingin kita menjalani hubungan ini dengan sungguh-sungguh. Kau mengerti?” Aku mendengar nada marah di suaranya.

“Baiklah kalau kau maunya seperti itu.” Aku tersenyum kepadanya dan suasana kembali hangat seperti semula.

1 bulan berlalu, awalnya semua baik-baik saja hingga aku melihat sendiri pengkhianatan yang dilakukannya. Tepat di malam itu aku sengaja datang ke tempat pemotretannya, bermaksud memberinya kejutan. Tapi, apa yang kudapatkan? Pemandangan indah kekasihku berciuman dengan gadis lain tepat di depan mata kepalaku sendiri. Mataku memanas dan dunia seolah berguncang hebat. Alex melihatku dan kaget kemudian mendorong gadis itu menjauh lalu berlari menghampiriku.

“Aku bisa jelaskan semuanya,” Alex memegang kedua lenganku yang langsung kutepis.

“Ini yang kau bilang bersungguh-sungguh. Dibelakang aku ternyata begini kelakuanmu? Kau keterlaluan!” geramku. Bibirku bergetar saat mengatakannya. Dan kurasa mataku juga mulai berkaca-kaca. Tidak. Aku tidak boleh menangis sekarang. Itu sama juga aku menunjukan kelemahanku di depan pria brengsek ini.

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Kay. Percaya sama aku,” mohon Alex. Aku tidak akan tertipu untuk kedua kalinya.

“Lalu kau berharap aku mempercayai perkataanmu dan semuanya akan baik-baik saja? Maaf kalau begitu. Aku memang bodoh menerima begitu saja saat kau memintaku menjadi kekasihmu, dan sekarang kau bisa mencampakan aku sesuka hatimu. Terima kasih untuk semuanya, Alex!!” ucapku sengit dan langsung pergi dari tempat itu. Alex tidak mengejarku dan bisa kuartikan bahwa aku memang tidak pernah menjadi yang istimewa seperti perkataannya dahulu.

Hari-hari yang kujalani sejak malam itu begitu berat. Seolah-olah tak ada tulang yang mampu menopang tubuhku saat aku berdiri. 2 hari aku mengurung diri di kamar, mengabaikan semuanya, berharap semua akan baik-baik saja setelahnya. Tapi aku salah besar. Semakin aku banyak berdiam diri, semakin juga ingatan tentang Alex menghujamku, menyiksa batinku hingga terasa begitu sulit hanya untuk menarik napas. Segalanya terasa begitu mengerikan. Aku merindukannya dan sangat membutuhkan pria itu sekarang juga. Tapi realita langsung mengubur harapanku begitu saja. Aku bertanya-tanya apa pria itu juga merasakan apa yang kurasakan? Apa pria itu juga sempat memikirkan dan merindukanku? Mungkin jawabannya tidak, karena dia tidak pernah mencariku sejak malam itu.

Kemarin aku tidak sengaja membaca sebuah majalah dan kebetulan ada berita Alex disana yang digosipkan dengan salah satu selebriti, yang kukenali sebagai gadis yang diciumnya kemarin. Masih adakah harapan untukku? Kenapa seolah hanya aku saja yang merasakan sakitnya sendirian? Kenapa hanya aku saja yang menangis tanpa henti setiap hari saat mengingat kenangan pria itu, hari-hari yang kulewati bersamanya.

Alex, pria itu mungkin akan menjadi pria pertama yang pernah membuatku jatuh cinta, kemudian membuatku hancur seperti ini. Katakanlah aku bodoh karena terlalu mencintainya. Tapi faktanya begitu sulit untuk melupakan pria itu. Entah sampai kapan aku harus begini terus. Haruskah aku melupakanmu, Alex?

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s