Maafin, Hanna, Mama…

Ibu Tara membaca surat panggilan sekolah yang diantar oleh teman Hanna siang tadi. Betapa syoknya beliau ketika membaca setiap rentetan kata yang tertera disana. Ini bukan surat panggilan yang pertama, tapi sudah yang kesekian kalinya, dan Hanna tidak pernah menyampaikan surat yang harus diberikan kepada ibunya.

“Hanna,” panggil Ibu Tara dimalam itu saat Hanna baru saja pulang.

“Iya, Ma? Ada apa?”

“Ada apa? Kamu masih berani bilang ‘ada apa’? Ini surat apa?” tanya Ibu Tara seraya menunjukan surat panggilan itu.

Hanna terkesiap kaget. “Itu… Itu cuma…”

“Cuma apa, Hanna?” seru Ibu Tara. Beliau marah juga frustasi. Hatinya sakit.

Hanna menunduk.

“Ada apa dengan kamu, Nak? Apa selama ini mama kurang perhatian sama kamu? Apa mama tidak pernah peduli sama kamu? Apa salah mama, Nak, hingga kamu bermasalah dengan sekolah kamu? Nilai-nilai kamu bahkan dibawah rata-rata semua? Apa selama ini mama kurang mengajar kamu? Kenapa, Nak? Kenapa?” Ibu Tara menangis. Sedih dan kecewa. Ibu Tara tidak menyangka anak gadisnya tega membohonginya.

Hanna tahu ia sangat salah. Melihat mamanya menangis membuat Hanna semakin merasa ia bukan anak yang baik. “Maafin, Hanna, Ma. Maafin, Hanna,” kata Hanna menangis. “Maafin, Hanna,” katanya sekali lagi.

Ibu Tara meraih Hanna ke dalam pelukannya. Memeluknya erat, beliau tahu Hanna punya masalah dan anak itu tidak ingin menceritakannya.

Ibu Tara merengkuh wajah anaknya dengan kedua telapak tangannya. “Mama maafin, Sayang. Mama maafin kamu. Tapi kamu mau cerita sama mama kan kenapa nilai-nilai kamu jadi menurun?”

“Aku lelah, Ma. Aku lelah dan bosan bersekolah,” jawab Hanna jujur.

Mendengar jawaban Hanna membuat Ibu Tara menghela napas. “Hanna, kamu gak boleh bilang seperti itu, Nak. Sekolah itu penting untuk masa depan kamu. Coba bilang sama mama cita-cita Hanna ingin jadi apa?”

“Pramugari,”

“Hanna ingin jadi pramugari? Hanna tahu kan setiap keinginan manusia pasti ada proses untuk mendapatkannya. Kalau Hanna ingin jadi pramugari, Hanna harus belajar, Sayang. Di dunia ini tidak ada yang instant. Hanna mengerti, kan?”

Hanna mengangguk sebagai jawabannya.

“Maafin, Hanna, Ma…,”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s