Kasih Ibu

Kasih Ibu, kepada beta…

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi, tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

Teringat setiap baris lirik yang sering kunyanyikan dirumah. Ibu siang itu sibuk menjahit baju pesanan para pelanggannya. Kulihat tetes keringat dikeningnya.

“Ibu,” panggilku.

“Iya, Sayang? Kenapa?” sahut ibuku. Senyum hangat tercetak dibibir indahnya. Ibu, sesibuk dan selelah apapun beliau, ia tetap memberiku senyuman itu. Senyum favoritku.

Aku naik kepangkuan ibu. Ibu sedikit heran melihat tingkahku, tapi tetap meraihku. Tetes keringat yang kulihat tadi segera kuhapus dengan telapak tanganku.

“Ibu capek ya?” tanyaku polos.

“Tidak, Sayang. Nanda main sama teman-teman gih! Ibu sedang sibuk,” kata ibu.

Aku menurutinya dan langsung berlari keluar.

Kasih Ibu, kepada beta…

Tak terhingga sepanjang masa

2 baris lirik itu pertama kali kuketahui saat mendengar beberapa pengamen seumuranku menyanyikannya dengan gitar sebagai alat pengiringnya. Saat itu, ibu dan aku baru pulang dari pasar. Kami naik bajaj.

“Ibu… Ibu…,” panggilku.

“Iya, Sayang. Kenapa?” sahut ibu tersenyum kepadaku.

“Mereka itu siapa?” Aku menunjuk ke para pengamen itu.

“Mereka pengamen, Sayang.”

“Aku ingin seperti mereka, Ibu,” kataku.

“Lho? Kenapa?” tanya ibu heran.

“Karena aku ingin bernyanyi setiap hari untuk ibu,”

Hanya memberi, tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

Besoknya, aku mendengar lagu ini lagi. Bukan aku yang menyanyikannya, tapi anak-anak dikompleks tempat tinggalku. Aku ingin bernyanyi bersama mereka. Tapi ibu sedang sakit. Kata beliau cuma kelelahan karena kebanyakan menjahit.

Ibu batuk-batuk dan memegang dadanya. Sesekali ibu meringis kesakitan. Napas ibu juga pendek-pendek. Sakit ibu tidak seperti biasanya. Sebenarnya ibu sakit apa sih?

“Ibu, kenapa?” tanyaku.

“Ibu tidak apa-apa, Sayang,” jawab ibu. Muka ibu putih pucat dan aku mulai khawatir.

“Ibu, Nanda panggil dokter ya?”

“Tidak perlu, Sayang. Ibu baik-baik saja kok,”

Sakit ibu semakin parah. Saat aku mengompres kening ibu, rasanya sangat panas. Ibu demam.

Tak lama setelah itu ibu pun tertidur. Keesokkan harinya, ibu belum juga bangun. Mungkin ibu kelelahan, pikirku. Kudekati ibu dan kusentuh tangannya, dingin.

Aku mulai menangis. Ibu tidak akan bangun lagi. Sekarang siapa yang menjadi sang suryaku?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s