The Reasons Why I Love You, Dear…

Julie pulang ke rumahnya dengan langkah gontai dan bahu terkulai lemas. Ia lelah. Seharian gadis itu menghadapi situasi yang tak mengenakan di kantornya. Gadis itu tidak tahu kenapa moodnya tiba-tiba menjadi begitu buruk. Mungkin itu karena pria yang sudah hampir 1 tahun tinggal bersamanya tak berada disampingnya. Julie butuh tempat bersandar, tempat untuk menangis dan tempat untuk melampiaskan kekesalannya. Tapi, sayangnya pria yang selalu menjadi sumber kekuatannya itu sedang tidak ada dirumah. Suaminya sedang bertugas keluar kota untuk mengurusi beberapa proyek yang sedang dijalankannya.

Gadis itu kesepian. Ditatapnya sekeliling rumah yang memiliki perabotan sederhana namun tertata rapi. Sunyi. Hanya ada ia seorang yang berdiri ditengah-tengah ruangan ini. Gadis itu merasa tak memiliki kekuatan untuk menopang tubuhnya. Ia butuh pria itu, suaminya, Dion, sekarang juga.

Rindunya sudah mencapai tingkat akut karena hampir seminggu mereka tak bertemu dan hanya sesekali hanya bisa melepas kerinduannya lewat sambungan telepon. Hanya mendengar suaranya dan memastikan suaminya baik-baik saja itu sudah cukup melegakan Julie. Walau hanya mampu mengobati sedikit rasa rindunya kepada sang suami.

Gadis itu teringat saat ia mengalami kondisi yang sama seperti ini sebelumnya. Saat itu ia sedikit frustasi karena beberapa kliennya tiba-tiba memutuskan kontrak sebuah proyek yang sudah hampir selesai ia buat. Julie pulang ke rumah dengan perasaan tak menentu. Ia tak memikirkan kerugian finansialnya tapi ia merasa kecewa karena kliennya sama sekali tak memikirkan bagaimana ia mati-matian membuat proyek itu hingga larut malam setiap harinya ketika pulang dari kantor. Ia ingin berteriak dan melampiaskan emosinya. Tetesan keringatnya harus dibayar denga rasa kekecewaan yang teramat sangat.

Saat itu ia pulang ke rumah dengan perasaan lelah dan kecewa. Ia tak ingin berbicara kepada siapapun. Saat dikantor pun beberapa rekannya enggan menegurnya karena mereka tahu perasaan Julie sedang buruk.

Julie masuk ke rumahnya dan menemukan Dion yang duduk di ruang santai dengan tangan memegang beberapa berkas. Dion mendongak menatap Julie. Julie tak sedikit pun terlihat tertarik untuk sekedar menyapa suaminya. Segera saja ia masuk ke kamarnya. Dion merasa heran melihat tingkah istrinya. Ia yakin gadis itu pasti memiliki masalah. Dion pun menyusul Julie ke kamarnya.

Julie baru saja bersiap-siap untuk membersihkan diri ketika tiba-tiba saja pintu yang kamarnya terbuka dan suaminya masuk. Dion menatap istrinya intens, kemudian bersuara.

“Apa ada masalah?” tanya Dion, seraya menghampiri Julie.

“Tidak, Di. Aku Cuma kelelahan saja,” jawab Julie enggan. Jujur, ia tidak ingin bicara dengan suaminya saat ini. Karena Julie tahu suaminya juga sibuk dengan pekerjaannya dan ia tak ingin mengganggunya.

“Kau yakin?”

“Aku baik-baik saja,” suara Julie terdengar sedikit serak.

Dion tahu istrinya tidak dalam kondisi baik-baik saja mengingat sifat gadis itu yang mencoba menyembunyikan perasaannya namun gagal setiap ia mengelak. Julie tak pandai berbohong. Gadis itu bukan aktris yang baik.

Dion kemudian meraih Julie ke dalam pelukannya. Ia tahu saat ini Julie butuh tempat bersandar untuk menumpahkan emosinya. Sambil mengusap punggung istrinya lembut, Dion membisikan sesuatu ditelinganya. “Aku tahu kau bohong,”

Julie menangis dipelukan Dion. Pria itu semakin mempererat pelukannya.

Inilah alasan kenapa Julie sangat mencintai Dion. Pria itu sangat mengerti Julie, dan Julie adalah gadis yang ingin dimengerti. Ia sangat bersyukur mempunyai Dion, pria yang sangat sabar menghadapinya dan selalu menjadikannya gadis yang istimewa.

Julie melihat jam yang tergantung didinding ruang tamunya. Jam 20.30. Ia menghembuskan napas beratnya. Bahkan hanya untuk menarik napas terasa sulit karena dadanya sedikit sesak akibat rasa rindu yang mendalam.

“Aku merindukanmu, Sayang,” lirih Julie.

Malam itu berlalu seperti malam-malam sebelumnya sejak Dion bertugas keluar kota. Pagi harinya ketika Julie tengah bersiap-siap pergi ke kantor, ponselnya berbunyi menandakan adanya panggilan masuk. Sebelum mengangkat ia melihat nomor yang tertera di sana. Nomor yang tak dikenal. Lalu ia mengangkatnya.

“Halo…,” jawab Julie.

“Halo, apa ini ibu Julie Prawinata? Saya dari anggota kepolisian ingin mengabarkan kalau suami anda Dion Prawinata mengalami kecelakaan di jalan tol. Jadi kami mengharapkan kedatangan anda di Rumah Sakit Kasih Bunda sekarang, karena suami anda…”

Ponsel yang dipegang Julie lepas dari genggamannya dan sukses terperosot ke lantai. Matanya membelalak syok. Wajahnya pucat pasi. Tak mungkin suaminya mengalami kecelakaan. Kesadaran itu mengguncang dirinya. Tanpa sadar air matanya jatuh.

Tidak mungkin! teriak Julie dalam hati.

Seperti kerasukan setan, Julie langsung menyambar kunci mobilnya dan menuju ke rumah sakit. Dijalan ia menyetir ugal-ugalan dan ia tak lagi peduli dengan bunyi klakson mobil di sekelilingnya yang memprotes karena ia menerobos lampu merah hingga memperparah kemacetan yang ada di jalanan Jakarta. Gadis itu juga tak lagi memikirkan keselamatannya, yang ada di kepalannya saat ini adalah bagaimana keadaan suaminya? Apa suaminya baik-baik saja?

Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menuju ke ruangan yang ditunjuk salah seorang suster tadi ketika Julie menanyakannya. Disana beberapa polisi sedang berjaga-jaga di sebuah kamar, dan Julie yakin suaminya ada disitu. Segera saja ia menghampiri polisi itu.

“Bagaimana keadaan suami saya? Dia tidak apa-apa, kan? Dia tak mengalami luka yang berat, kan? Suami saya selamat, kan?” tanya Julie bertubi-tubi. Wajahnya basah oleh air mata.

Polisi itu menatap Julie dengan tatapan yang sudah pasti ia tahu apa jawabannya. Tidak! Suaminya pasti tidak apa-apa. Dion pasti baik-baik saja.

“Maaf, Bu. Tapi kecelakaan itu telah menewaskan suami anda. Dokter tak bisa menyelamatkannya karena suami anda mengalami pendarahan yang cukup hebat. Sampai ketika dia dibawa kemari nyawanya sudah tak tertolong lagi,” jelas polisi itu dengan nada suara yang amat menyesal.

Seketika jerit tangis Julie pecah. Ia terperosot ke lantai dan menangis keras. Tidak mungkin suaminya meninggal, kata-kata dari hatinya itu terus melawan kenyataan yang terjadi sekarang.

Polisi itu berjongkok dihadapan Julie dan menyerahkan beberapa barang yang ada ditangannya.

“Ini adalah barang-barang yang kami temukan didalam mobil almarhum saat kecelakaan,” kata polisi itu. Julie menerimanya dengan tangan bergetar.

Barang-barang itu adalah sebuah kotak sebesar buku berwarna silver dan sepucuk surat yang berwarna merah muda. Julie mengarahkan perhatiannya ke kotak berwarna silver itu. Ada garis yang disetiap sisinya yang disimpulkan Julie bahwa kotak itu bisa dibuka. Perlahan Julie pun membuka kotak itu dan terdengarlah musik favoritnya mengalun. Ada sepasang malaikat yang menari mengintari ditengah kotak itu dan dibawahnya ada tulisan yang dicetak berwarna emas : Happy 1st Wedding Anniversary.

Tangis Julie pun kembali pecah. Ia ingat besok adalah hari ulang tahun pernikahannya dengan Dion dan ia tak menyangka pria itu akan cepat pulang untuk memberinya kejutan. Terakhir kali Dion bilang ia akan di tugaskan selama 2 minggu di Surabaya dan harusnya pria itu akan pulang minggu depan.

Astaga, Tuhan! Apa engkau sedang mempermainkanku? Julie menggeram.

Lalu ia beralih ke sepucuk surat berwarna merah muda itu, dan membaca baris-baris kalimat yang tertera disana.

Happy 1st Wedding Anniversary, Dear…

Tak terasa pernikahan kita sudah berjalan setahun. Kau tahu kenapa aku tak merasakannya? Itu karena kau yang membuatku hampir melupakan semuanya, bahkan sampai melupakan waktu hingga tak sadar sudah setahun kita hidup bersama. Aku memang tak pandai mengucapkan kata-kata romantis seperti yang selalu kau harapkan. Kau tahu, kan, aku tak berbakat melakukannya. Yang ada malah aku yang akan kau ejek habis-habisan.

Julie, entah sudah keberapa kali aku mengucapkannya dan aku tak pernah bosan saat mengatakannya. Aku mencintaimu. Aku harap kau juga tak pernah bosan mendengarkannya karena aku memang mencintaimu, lebih dari hidupku sendiri.

Terima kasih untuk semua yang sudah kau berikan, Sayang. Semuanya yang bahkan tak pernah aku minta sekali pun dari Tuhan.

Terima kasih karena sudah menerimaku sebagai pasangan hidupmu, terima kasih karena mau menjadi istriku, terima kasih sudah menjadikanku pria yang paling bahagia dan terima kasih karena sudah lahir ke dunia ini. Terima kasih, Sayang…

Aku mencintaimu, Julie-ku…

“Aku juga mencintaimu, Dion,” balas Julie berurai air mata.

Aku mencintaimu dan sampai kapan pun akan tetap mencintaimu, Dion…

End

Note : Thanks buat sista Nidya Ayu karena sudah mengizinkan aku memakai kata-kata yang ditulis di statusnya. Thanks ya sist…😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s