Get Out

Greyson Chance

Author : Rita

Greyson’s POV

Aku berdiri membeku ditempat, menyaksikan dua orang sejoli yang sedang berciuman disana. Tangan pria itu pun menyentuh bagian-bagian tubuh yang membuat sang gadis menggeliat di pelukannya. Saat itu juga aku merasa langit seperti roboh diatas kepalaku, badai menghempas, menerjang dan menghancurkan hatiku menjadi kepingan-kepingan kecil tak berbentuk. Tidak dapat kugambarkan dengan kata-kata bagaimana rasa cemburu menguasai seluruh pikiranku. Seharusnya akulah yang berada di posisi pria itu bukan bajingan sialan itu.

Detik itu juga darahku mendidih. Aku bisa merasakan panas yang berkumpul di mataku. Mata yang menyaksikan pemandangan menyakitkan itu. Hati kecilku memperingati untuk meninggalkan tempat ini, tapi aku tidak bisa melakukannya. Dengan tekad penuh, aku pergi menghampiri mereka.

Aku memasang wajah datar, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. “Sebaiknya kalian mencari tempat yang lebih pantas,” kataku.

Mereka terkejut mendengar suaraku. Aku bisa wajah kekasihku, well, mungkin aku bisa menyebutnya dengan mantan kekasihku karena dengan perbuatannya barusan bisa memperjelas status di antara kami, menunduk malu dengan wajah merahnya karena tertangkap basah.

“Grey…,” panggil Lauren. Ternyata dia masih punya harga diri, memanggil namaku.

“Apa?” sahutku tetap berusaha untuk tenang. Padahal dalam hatiku, ingin rasanya aku mencekik pria yang berdiri disebelahnya itu karena telah merebut gadisku.

“Aku…tidak…,” suaranya menghilang. “Maaf,” lirihnya.

“Maaf,” ulangku,”apa itu cukup untuk menebusnya? Lauren, apa kau pikir dengan kata maaf semuanya akan kembali seperti semula? Kau melakukannya di belakangku. Berselingkuh dengan pria itu!” tuduhku. Mati-matian aku menjaga suaraku agar tetap datar. Aku tidak ingin menangis di hadapannya karena itu sama juga aku mengemis-ngemis cinta padanya. Aku masih punya harga diri untuk tidak melakukannya.

Lauren tidak bergeming. Kulihat matanya berkaca-kaca. Air mata palsu, kecamku dalam hati.

“Baiklah. Mungkin kau akan lebih bahagia jika bersama pria itu dari pada bersamaku. Selamat tinggal, Lauren,” aku pun pergi begitu saja dengan luka hati yang menganga. Sedih, marah, kecewa, semuanya bercampur menjadi satu membentuk parasit yang membuat hatiku lebih sakit lagi.

Aku masih ingat sikap anehnya yang akhir-akhir ini membuatku bertanya-tanya ada apa dengannya. Dengan kejadian itu, terjawab sudah pertanyaanku. Satu hal yang aku tidak terima adalah ketika pagi tadi aku menelponnya dan dia masih bilang kalau dia mencintaiku. Sekarang dia mengkhianatiku, berciuman dengan pria lain di depan kekasihnya sendiri.

-00-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s