Hujan Dikala Senja

Gadis itu duduk dibawah tempat tidurnya, tatapannya tak lepas dari rintik-rintik hujan yang turun menemani kesedihannya. Tangannya memegang sebuah bingkai foto. Foto keluarganya yang masih utuh sebelum kecelakaan yang menewaskan kedua orang tuanya. Sekarang ia sebatang kara, tidak mempunyai saudara baik dari pihak ayah atau pun dari pihak ibunya. Ia tinggal bersama sahabat karibnya karena rumahnya disita oleh pihak bank untuk menebus sejumlah uang yang pernah di pinjam oleh ayahnya untuk membangun perusahaan.

Gadis itu diam tak bergeming. Matanya sudah kering, tak terhitung berapa tetes air matanya yang mengalir disana.

       “Shey…,” panggil Clara, sahabat gadis itu. Ia sangat miris melihat kondisi sahabatnya.

       Sheyra, gadis yang dipanggil itu diam tak menjawab.

       “Shey…, aku mohon. Jangan begini terus. Itu sama aja kamu membunuh diri kamu perlahan-lahan,” Clara berjongkok di depan Sheyra, tapi gadis itu tetap diam. Pandangannya ke depan, tak jelas apa yang di lihatnya.

       “Sheyra…,” panggil Clara lagi. Ia frustasi karena sulit membujuk Sheyra untuk melangkah ke depan bukannya terperosok ke dalam lubang yang akan menghancurkan masa depannya. Tidak. Ia tak boleh membiarkan itu terjadi pada sahabatnya.

       “Sheyra, tatap mata aku…,” Clara mengkengram kedua bahu Sheyra. “Sheyra, aku bilang tatap mata aku,” karena terlalu frustasi akhirnya Clara membentak gadis itu, berharap pandangan Sheyra tertuju padanya.

       Sheyra menatap Clara, ia bisa melihat begitu banyak kesedihan di dalam sana. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Tidak ada.

       “Apa?” sahut Sheyra.

       “Sadar, Shey. Semuanya sudah terjadi. Kamu harus menerima kenyataan. Kalau kamu begini terus, apa kamu pikir orang tua kamu di surga sana bahagia? Mereka pasti sedih, Shey. Aku mohon, jangan terus-terusan bersedih.” Clara menangis untuk sahabatnya. Ia ingin mengembalikan Sheyra yang dulu. Sheyra yang ceria, Sheyra yang selalu bersemangat, dan Sheyra yang kuat.

       “Maafin aku, Ra…,” hanya itulah kata yang bisa terucap di bibir mungil Sheyra.

***

       Sepanjang hari Sheyra menghabiskan waktunya duduk di bingkai jendela, menatap hujan yang perlahan menjadi gerimis kecil. Ia tak pernah bosan menatapnya, seolah sudah menjadi bagian hidupnya selama ini. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman yang tersungging di wajah.

       Berapa lama aku duduk di sini? Ia bertanya-tanya sendiri.

       Gerimis-gerimis kecil itu menghilang, berganti dengan datangnya senja yang membuat langit menjadi berwarna kuning keemasan. Warna favorit Sheyra. Karena dibalik keindahan senja, tersimpan kenangan pahit yang akan ia simpan dalam-dalam. Clara benar, ia tak boleh bersedih terus. Hidupnya masih panjang, terlalu berharga untuk diterlantarkan. Ia masih banyak tugas yang belum ia selesaikan. Salah satunya mencapai cita-citanya menjadi seorang arsitek sesuai keinginan almarhum orang tuanya dan tentu saja itu keinginannya sejak kecil.

       Clara muncul di balik pintu kamar Sheyra, lalu ia menghampirinya dan memberikan secangkir teh hangat untuk sahabatnya itu.

       “Terima kasih,” ucap Sheyra, menerima cangkir yang diberikan Clara.

       Mereka pun menikmati teh masing-masing sambil menyaksikan sang surya yang perlahan-lahan tenggelam di ufuk barat.

 

THE END

       

4 thoughts on “Hujan Dikala Senja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s