Cerpen : Habibie & Ainun (Versi Saya)

PS : Ini untuk tugas Sastra Indonesia disekolahku yang ditulis dengan versiku sendiri. Happy reading ;)

Tepat jam sepuluh pagi lima puluh tahun yang lalu
Dengan ucapan Bismilaahirrrahmaanirrahiim saya melangkah
Bertemu yang dilahirkan untuk saya dan saya untuk Ainun
Alunan budaya Jawa bernafaskan Islam, menjadikan kita suami isteri
Melalui pasang surut kehidupan, penuh dengan kenangan manis
Membangun Keluarga Sejahtera, Damai, dan Tenteram, Keluarga Sakinah
Tepat jam sepuluh pagi lima puluh tahun kemudian di Taman Makam Pahlawan
Setelah membacakan Tahlil bersama mereka yang menyayangimu
Saya panjatkan Do’a untukmu, selalu dalam lindunganNYA dan bimbinganNYA
Bersyukur pada Allah SWT yang telah melindungi dan mengilhami kita
Mengatasi tantangan badai kehidupan berlayar ke akhirat dalam dimensi apa saja
Sekarang sudah 50 tahun berlalu, selalu menyatu dan tetap menyatu sampai akhirat.

-Habibie-

Kita hanya berpisah sementara, bukan?

Entah bagaimana ketika aku menyadari ada sesuatu yang hilang dariku sejak kau pergi. Aku menangis, tentu saja. Memangnya siapa yang tidak menangis ketika kehilangan sesuatu yang sangat berharga di hidupmu. Kembalilah, aku mohon. Sebentar saja, itu sudah cukup.

Hari-hari yang kulalui selalu sukses membuatku semakin putus asa dan menangis. Ya, menangis adalah kegiatan favoritku sekarang setiap aku membayangkan wajahmu yang cantik, matamu yang selalu berbinar-binar ketika menatapku dan senyum yang selalu terpampang ceria dibibir mungilmu.

Namun, ketika perpisahan itu tidak terelakkan, aku hanya bisa mengatakan, aku tidak tahu apakah aku bisa hidup dengan benar tanpamu disisiku. Aku tidak tahu apakah aku bisa menarik napas dengan benar seperti yang kulakukan saat kau masih ada bersamaku.

Kembalilah, sebentar saja. Selalu itu yang ingin kuteriak setiap air mata ini jatuh dipelupuk mataku. Aku mencoba membersihkannya, menyekanya berkali-kali sepanjang waktu, tapi tetap saja sulit untukku berhenti menangis. Apapun dan bagaimana pun setiap aku memulai sesuatu yang benar, tanpamu tetap saja aku menangis. Aku merindukanmu, sungguh.

Tanggal 22 Mei 2010, tepat hari disaat kau pergi. Rasanya ada sesuatu yang menarik dan menyedot seluruh eksistensiku, begitu sakit setiap mengenang detik-detik kepulanganmu ke sisi-Nya. Tak ada lagi kau disini, Ainun. Tak ada lagi, apapun itu, kau telah pergi dan itu benar-benar menyakitkan.

Aku selalu berharap perpisahan ini untuk sementara. Setiap malam aku berharap semua yang terjadi hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang ketika aku bangun dan semuanya akan kembali ke semula. Kau masih disini, membuatkan sarapan untukku setiap pagi, mengambilkan obat untukku dan memulai segala aktivitas seperti biasa.

Gula jawaku, Ainun. Aku ingat sekali bagaimana pertemuan kedua kami setelah pertemuan pertama dikelas, saat dia disuruh menjelaskan kenapa langit warnanya biru. Gadis itu menjawabnya dengan sangat lancar dan waktu itu aku malah kesal dengannya. Kenapa dia bisa menjawab pertanyaan itu?

Bertahun-tahun setelah itu kami bertemu kembali. Pernahkah kau melihat gula jawa bertransformasi menjadi gula pasir. Itulah Ainun, gadis yang dulunya jelek, hitam, ireng kayak gula jawa, sekarang menjelma menjadi seorang gadis cantik kayak gula pasir. Aku terpesona padanya, dan mungkin disinilah aku mulai merasa akan ada sesuatu yang terjadi. Bergetar dan desiran aneh. Apa aku jatuh cinta pada Ainun?

Ternyata perasaan itu memang benar adanya. Berpuluh-puluh pria di dalam maupun diluar kampung tempat tinggalnya, belum juga ada yang berhasil memikat Ainun. Dan… aku adalah lelaki yang paling beruntung karena gadis itu ternyata memiliki perasaan yang sama denganku. Aku jatuh cinta pada gadis itu dan begitu sebaliknya dengan Ainun.

Tepat dimalam itu, aku melamarnya menjadi istriku. Aku tahu aku tidak bisa menjanjikan banyak kepadanya, apakah dia bisa menjadi dokter atau tidak, apakah kami bisa hidup mudah atau tidak di Jerman, tapi satu hal yang akan kupastikan, aku akan menjadi suami terbaik untuknya, untuk gula pasirku.

Berbagai cobaan dan pasang surut kehidupan yang kami lalui di Jerman. Hingga suatu malam ketika aku pulang dari kantor, Ainun sudah menungguku dirumah.

Aku berjalan sedikit terseok-seok karena luka ditelapak kakiku akibat memaksanya berjalan jauh bersamaku. Lalu, Ainun pun membersihkan lukaku. Sebenarnya bukan luka serius, tapi memang dasarnya gula pasir yang terlalu berlebihan.

Ainun memang membersihkan lukaku. Tapi, aku tahu pikirannya melayang entah kemana. Ada raut yang muram diwajah cantiknya.

“Ainun kenapa?” tanyaku kemudian. Dia diam, aku menunggu jawabannya.

“Aku ingin pulang. Dengan begitu aku bisa mengurangi bebanmu disini. Disini bukan tempatku, tapi tempatmu,” katanya. Ada nada sedih yang terselip saat Ainun mengatakannya.

Tapi, bukan Bachruddin Jusuf Habibie namanya jika tidak bisa mengembalikan senyum ceria Ainun. Akhirnya bertahun-tahun juga kami tinggal di Jerman dengan gelar professor yang kusandang hingga suatu hari aku dipanggil pulang ke Indonesia untuk membuat pesawat terbang yang akan menghubungkan pulau-pulau di Nusantara yang dipisahkan oleh lautan luas.

Aku pulang ke Indonesia, kemudian bekerja dan mengembangkan pesawat seperti ambisi terbesarku dari dulu. Tak lama setelah itu, Ainun yang berprofesi sebagai dokter disana mengundurkan diri dan ikut pulang ke Indonesia bersama anak-anak kami juga.

Kami memulai lagi dari awal seperti halnya hidup di Jerman. Hidup ditengah kota seperti Jakarta ini sungguh kejam. Korupsi, kolusi dan nepotisme, semua terjadi dimana-mana. Tapi aku abaikan. Hanya satu tujuanku pulang ke Indonesia, membuat sebuah pesawat terbang.

Suatu kebanggaan tersendiri ketika aku berhasil membuat pesawat itu dan sukses menerbangkannya. Berhasil. Aku dan Ainun pun kembali ke Jerman, untuk menikmati bulan madu kami yang kedua. Tapi rencana itu harus kami ubah karena suatu hal.

Memimpin sebuah negeri bukan keinginan terbesarku. Tapi ketika pemimpin nomor satu dinegeri ini, Pak Soeharto mengundurkan diri dari jabatan kepresidenannya, aku yang notabene sebagai wakil presiden pun naik jabatan.

Berminggu-minggu aku mencoba memecahkan masalah inflasi yang terus-terusan menanjak, tapi belum juga aku menemui titik terangnya. Sampai-sampai malam itu Ainun marah dengan aku karena setiap hari cuma tidur 1 jam.

“Kamu itu pemimpin negara. Jika kamu tidak bisa memimpin tubuh kamu sendiri, bagaimana kamu bisa memimpin tubuh 200 juta orang?”

Aku pun langsung tersadar.

Tahun 1999, aku dituduh melakukan tindak korupsi dan memaksaku mengundurkan diri dari jabatan presiden. Akhirnya, aku dan Ainun serta anak-anak kembali menetap di Jerman dan menghabiskan waktu disana setelah sekian lama berkutat dengan pekerjaanku.

Aku pernah mendengar sebuah cerita ketika aku masih kecil, seseorang yang dipanggil Tuhan lebih cepat karena orang itu sudah selesai menyelesaikan tugas dari-Nya. Maka dari itu, orang itu berhak kembali kesisi-Nya. Apa Ainun juga sudah menyelesaikan tugasnya?

Tahun 2010, ketika hari dimana saat Ainun jatuh sakit, lebih parah. Aku baru mengetahui gula pasirku mengidap penyakit kanker rahim dan tumor. Segera saja malam itu kami terbang ke München untuk menjalani pengobatan terbaik bagi Ainun.

9 kali dioperasi, siapa yang tak miris melihatnya disana. Terbaring tak berdaya dengan tubuh yang semakin hari semakin mengkerut. Apa ini sudah saatnya? pikirku saat itu. Tidak! Ainun tidak boleh meninggalkanku. Dia harus kuat. Kalau perlu dia harus sembuh, bagaimana pun caranya. Aku rela melakukan apapun untuk kesembuhannya. Apapun itu. Aku takut, sangat takut kehilangannya.

Namun, takdir berkata lain. Ainun berpulang. Rasanya begitu menyesakkan. Keikhlasan belum sepenuhnya aku berikan. Tapi, walau bagimanapun juga, aku harus rela. Ainun telah tiada. Tidak ada lagi rasa yang sama. Tidak ada lagi, Ainun.

Saat pemakaman itu, aku memegang erat payungku. Ainun, setelah kepergianmu, barangkali akan ada hujan yang lebih lama; di langitku. Aku tetap mengulang ini di hatiku. Ya, hujan yang disertai petir yang membuncah di duniaku yang tidak ada Ainun.

END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s